2 Januari 2010
yang tertulis:
Ini yang dilakukan Budi Setiawan untuk membesarkan 18 kg bibit sidat 50 – 60 g/ekor. Peternak di Salabintana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memakai 12 hapa – masing-masing berukuran 2 m x 1 m, terbuat dari waring – di kolam seluas 30 m2. Dengan tingkat kelulusan hidup 80 – 90%, selang 6 bulan Budi memanen 30 kuintal sidat isi 3 – 5 ekor/kg.
seharusnya:
Ini yang dilakukan Suharjo untuk membesarkan 18 kg bibit sidat 50—60 g/ekor. Peternak di Salabintana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memakai 9 hapa—masing-masing berukuran 2 m x 1 m dari waring yang dipasang di dalam kolam. Dengan tingkat kelulusan hidup 80-90% berselang 6 bulan Suharjo memanen sekitar 100 kg sidat isi 3-5 ekor/kg.
author note:
mohon maaf bagi para pembaca, karena ada kesalahan perhitungan data ketika editing bahan sementara perbaikan terlambat dikirimkan sehingga timbul kekeliruan tersebut!
ref :
http://www.trubus-online.co.id/
Kategori: onmymind
24 Desember 2009
Variasi Padat Tebar Fingerling pada Pemeliharaan Sidat di Hapa
Abstrak
Meskipun kebanyakan spesies sidat ditemukan di perairan Indonesia, hingga saat ini belum ada usaha budidaya secara komersial di Indonesia. Kondisi ini disebabkan karena kurangnya teknik budidaya yang aplikatif baik pada tahap pendederan maupun pembesaran. Untuk mendapatkan teknik budidaya sidat Indonesia Anguilla bicolor bicolor yang dapat diterapkan pada skala kecil, kegiatan pembesaran sidat sudah dilakukan pada hapa yang dipasang di kolam (hapa-kolam) dan di jaring apung (hapa-jaring). Pengaruh perbedaan padat tebar terhadap kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan telah diamati.
Fingerling dengan bobot awal 74,07 – 86,02 g/ekor dipelihara dengan padat tebar 1.000 g/m3 dan 2.000 g/m3 pada hapa-kolam selama 3 bulan, dan fingerling dengan bobot awal 67,40 ± 17,36 g/ekor dipelihara dengan padat tebar 1.000 g/m3, 2.000 g/m3 dan 3.000 g/m3 pada hapa-jaring selama 5 bulan.
Pada akhir periode pemeliharaan, tidak terdapat perbedaan nyata yang dapat diamati pada kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan antara padat tebar baik pada hapa-kolam maupun hapa-jaring. Pada hapa-kolam, kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan masing-masing adalah adalah 97,85 – 98,15% dan 0,89 – 1,18. Pada hapa-jaring, kelangsungan hidup pada masing-masing padat tebar adalah 66,34±5,26 %, 51,70±0,82 % and 56,52±25,46 % dan laju pertumbuhan adalah 0,83±0,01, 0,84±0,06 and 0,88±0,09.
Kata Kunci; Anguilla bicolor bicolor, pembesaran, hapa, sidat Indonesia
makalah dipresentasikan pada KONFERENSI AKUAKULTUR INDONESIA 2009, Masyarakat Akuakultur Indonesia, Yogyakarta, 27 – 29 Oktober 2009
download makalah lengkap
Kategori: publikasi
Tags: Anguilla bicolor bicolor, growing up, hapas, Indonesian eel
13 Desember 2009
Membaca pengumuman mengenai amdal penambangan bijih besi (www.kabupatensukabumi.go.id), khususnya di Desa Kalibunder Kecamatan Kalibunder, saya ingin memberikan beberapa pandangan sebagai berikut:
1) Secara umum, kondisi lingkungan kalibunder saat ini sudah jauh berbeda dengan 15an tahun lalu. Wilayah hutan penyangga di bagian utara desa sudah nyaris habis, sungai Ciawitali yang semakin dangkal dan pemanfaatan lahan untuk tanaman kayu makin menyempit. Hutan penyangga yang dibabat sekitar Tahun 2000an tak mampu lagi menahan erosi tanah yang terbawa melalui Sungai Ciawitali dan Sungai (selokan) Cikoneng, kedua sumber air sungai yang melintasi desa. Dengan beban sedimentasi yang ada, Sungai Ciawitali masih dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga masyarakat dan relatif terjaga untuk hidup dan berkembang beberapa ikan asli dan introduksi. Untungnya, dari dulu ada kesepakatan tidak tertulis yang melarang penduduk untuk mengambil ikan dengan cara diracun, meskipun beberapa kali kena tangan jahil.
2) Perubahan struktur lahan pada bagian utara desa pasti akan memperparah kondisi sungai. Dengan sebagian besar bagian sungai bertipe tergenang, sedimentasi akan semakin berat menutup ceruk-ceruk yang tersisa. Fungsi sungai untuk keperluan rumah tangga dan hidup ikan pasti tergerus. Banjir mungkin akan semakin sering datang meskipun sodetan sudah dibangun.
3) Perubahan struktur juga akan mengubah (bahkan mungkin menghilangkan) keunikan sungai Ciawitali. Di bagian hilir, sekitar 1 km selepas Desa Kalibunder, sungai menembus bumi sejauh 2-3 km. Sejak dulu, nyaris jadi ritual tahunan, massa air tidak tertampung masuk goa sehingga melimpas ke Sungai Cibeber dan masuk ke Sungai Ciseureuh (keduanya sungai di Kec. Cimanggu). Beban sedimentasi yang tinggi tentu akan menyebabkan daya dukung goa untuk menampung massa air Ciawitali akan semakin menurun dan berakibat semakin seringnya perpindahan massa air ke Ciseureuh alias banjir kiriman di Cibeber.
4) Kerusakan Sungai Ciawitali dan perubahan struktur lahan juga akan berdampak pada kerusakan habitat alami yang dapat menyebabkan semakin tersingkirnya (bahkan mungkin hilang) beberapa ikan lokal, baik di Ciawitali maupun Sungai Cikaso yang juga akan menerima limpasan kerusakan Ciawitali. Di rawa/situ bagian utara desa masih menyimpan spesies yang, secara umum, sudah susah ditemukan, diantaranya: ikan lembat (Clarias teijsmanni), lele lokal (Clarias batrachus) dan gabus (Ophiochepalus striatus). Di Ciawitali dan Cikaso masih ada beunteur, genggehek, tawes (ragam spesies pada genus Puntius), ikan soro/dewa (Tor sp.), sidat (Anguilla spp), beragam udang-udangan (Crustaceae), betutu (Oxyleotris sp.) dan beragam ikan lainnya.
5) Perubahan struktur lahan dan pendangkalan sungai pasti akan membuat Kalibunder yang kering akan semakin kerontang. Bila saja kegiatan AMDAL juga memperhatikan faktor sosial ekonomi, tidakkah lebih baik untuk ditimbang secara jernih untuk kurun waktu jangka pendek (pra-eksploitasi), jangka menengah (eksploitasi) dan jangka panjang (pasca-eksploitasi)? Sehingga eksploitasi alam sesungguhnya adalah untuk memberikan kesejahteraan, atau setidaknya nilai-tambah, untuk masyarakat sekitar. Apakah kepentingan industrialisasi sudah harus merubah wajah kampungku?
Semoga pandangan Saya ini dapat dilihat sebagai masukan yang konstruktif.
Tulisan ini dibuat karena Saya orang Kalibunder dengan tidak mengatasnamakan dan/atau mewakili organisasi, LSM atau institusi manapun. Ditulis atas nama pribadi dan diposting pada blog pribadi di http://sunarma.net dan pada wall facebook SMP Kalibunder
Kategori: 2community