Alfred Russel Wallace (1869): The Malay Archipelago…

Alfred Russel Wallace (1869): The Malay Archipelago… (tapi yang dibeli edisi Bahasa Indonesia ‘Kepulauan Nusantara…2009) perlu untuk dibaca tuntas setelah Simon Winchester: Krakatoa… (lagi-lagi yang sudah diterjemahkan menjadi ‘Krakatau…). Kepulauan Nusantara diterima kemarin sore dan hingga saat ini merupakan buku termahal yang pernah dibeli. Tentu saja, baru pengantarnya saja yang usai dibaca.

Wallace, telah didengar sejak SMP ketika belajar peta buta kepulauan nusantara pada Ilmu Pengetahuan Sosial (dulu nama mata pelajarannya seperti itu). Tersadar lagi tentang Wallace pada Krakatau yang cukup mencengangkan. Karena pada Krakatua, seperti yang juga tertulis pada back-cover dan pengantar editor Kepulauan Nusantara, disebut bahwa teori evolusi Darwin lebih bersandar pada surat Wallace yang dikirim dari Ternate. Sehingga, cukup punya alasan untuk coba menelusuri apa yang Wallace laporkan dari perjalanannya di kepulauan nusantara.

Bila Winchester sukses menyambung dan mendeskripsikan beragam publikasi hingga menjadi bacaan yang sangat menarik dan enak dibaca, maka referensi publikasi terpenting Winchester, yang akan menjadi bacaan beberapa hari ke depan, adalah Kepulauan Nusantara.

juragan@E72

Memacu produksi mempertahankan kualitas

not difficult but complicated! begitu kata orang tentang genetik (ini tentang genetika ikan khusunya pada populasi). setali tiga uang adalah mengenai manajemen induk; tidak sulit tapi merepotkan! dan materi tentang manajemen induk unggul, entahlah pada sisi mempertahankan kualitas induk ataupun pada sudut pandang memperbaiki mutu, harus disajikan kepada para pembudidaya ikan.

tentu, yang menjadi tantangan adalah bagaimana membahasakan manajemen induk agar bisa dipraktekkan, setidaknya didengar dan diterima, oleh pembudidaya dengan ragam tingkat pendidikannya, dari tamatan sekolah dasar hingga perguruan tinggi. dari ‘sesederhana’ memilih induk yang harus tidak dari satu keturunan, hingga menghitung bilangan pijahan efektif. dari mengenalkan prosedur perbanyakan calon induk hingga cerita mengenai pendekatan seleksi individu atau famili.

sejauh mana perlunya? Sederhana saja; program peningkatan produksi perikana budidaya bukan hanya milik birokrat, tapi yang lebih menentukan keberhasilan program tersebut adalah para stakeholder, termasuk para pembudidaya kecil di seluruh pelosok tanah air. Dan tentu saja, pendorong utama untuk peningkatan produksi adalah penggunaan induk unggul. Lalu, bila ada keyakinan faktor genetik (dalam hal ini induk unggul secara genetik) hanya menyumbang 20% dalam keberhasilan produksi, apakah masih relevan untuk dipertimbangkan? Lho, jangan-jangan yang 20% tersebut menentukan apakah sisanya akan muncul atau nggak. Kalau tanpa yang 20% lalu sisanya tidak berarti, apa mau dikata!!!

faktanya, kebanyakan pembudidaya sangat berharap bisa melakukan usaha budidaya dengan menggunakan induk dan benih unggul. Yang lebih menggembirakan, mereka juga ingin mengetahui bagaimana teknik memproduksi yang unggul tersebut dengan hasrat tinggi untuk juga melaksanakannya. Dan setelah mereka tahu bahwa proses perbaikan mutu dan proses produksi perbanyakan (dalam arti mempertahankan kualitas atau memperlambat laju penurunan kualitas) bukanlah pekerjaan mudah dan memerlukan sarana prasana yang besar, menjadi sangat wajar bila pada akhirnya mereka berharap institusi pemerintah melakukan hal tersebut. juga, setidaknya, kita dapat berharap mereka dapat mengetahui dan menghargai bahwa kedua pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang merepotkan dan perlu konsistensi dalam rentang waktu yang panjang.

bila kita berharap penghargaan itu ada, sudah selayaknya secara institusi dan khusus penghargaan itu juga dialamatkan kepada para pelaku proses perbaikan mutu dan proses produksi perbanyakan induk ikan. Sudah ada?

juragan@e72.tjk

note: ide muncul karena harus menyampaikan materi pengelolaan induk unggul kepada para petugas teknis dan pembudidaya di Lampung.
Thanks to: Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Lampung

Membangun Optimisme: Terbesar di Dunia

‘Kita bukan hanya melangkah, tapi harus melakukan lompatan: menjadi penghasil produk kelautan dan kelautan terbesar pada Tahun 2015. Bila China telah mampu melakukan, maka dengan segala kelebihan yang dimiliki, Indonesia juga pasti bisa mencapainya. Untuk mensejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan’.

Itulah optimisme yang dibangun Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia kepada jajarannya. Mimpi yang harus dicapai dalam rentang waktu lima tahun ke depan. Dan mimpi itu, harus dibangunkan dari perikanan budidaya.

Bila ditelusur lebih lanjut, produk perikanan budidaya terbesar tersebut hanya pada komoditas rumput laut, lele, bandeng dan kerapu. Lonjakan target produksi yang dipasang pada komoditas lain, nampaknya belum mampu untuk masuk pada terbesar. Dari sisi teknik budidaya yang sejauh ini telah dikuasai, sebelas (dengan ikan lainnya pada urutan ke dua belas) komoditas, peningkatan produksi bukan mustahil untuk diwujudkan, apalagi dengan ditunjang sinergi yang baik (sejauh pada tingkat perencanaan) dengan bidang lainnya.

Dengan sinergi yang dibangun, diharapkan kendala yang biasa timbul secara klasik tidak lagi mengemuka, misalnya modal dan pasar. Secara wajar, kemandirian produksi bukan lagi harus bergantung pada bantuan pemerintah namun harus lebih diarahkan pada keterlibatan pihak bank. Mengingat azas kemerataan dan mungkin keterbatasan anggaran, bantuan pembiayaan dari pemerintah biasanya lebih mementingkan jumlah yang dibantu dibandingkan dengan nilai bantuan yang diperlukan, sehingga lebih diarahkan pada usaha skala rumah tangga. Tinggal bagaimana menumbuhkan kepercayaan pihak perbankan terhadap usaha perikanan dan mengawal usaha perikanan itu sendiri ke arah yang lebih bankable.

Pasar; bukan hanya kemana harus menjual tapi yang lebih penting adalah berapa margin keuntungan yang bisa diperoleh, jangan sampai pembudidaya yang berkutat dengan produksi selama periode tertentu hanya memperoleh keuntungan yang lebih kecil dibandingkan broker (tengkulak) yang hanya memerlukan waktu jauh lebih pendek. Adalah wajar bahwa pembudidaya tidak berhubungan langsung dengan konsumen namun perlu ada kesadaran (atau ‘dipaksa’ sadar, mungkin oleh pemerintah karena sejauh ini harga produk perikanan belum termasuk yang diatur, dibandingkan padi misalnya) dari para tengkulak untuk berbagi keuntungan secara wajar, baik ketika suplai terbatas ataupun berlebih dibandingkan dengan permintaan. Tentu saja, bila saja target peningkatan produksi yang melompat tersebut tercapai, akan berdampak pada keseimbangan suplai-permintaan. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan adalah salah satu jalan dan menerobos pasar ekspor adalah jalan lainnya.

Konsumsi ikan di masyarakat mungkin dapat meningkat sejauh harganya terjangkau. Kita bisa belajar dari perluasan daerah budidaya dan peningkatan produksi lele satu dekade ini yang memang produknya terserap habis karena harganya relatif murah dibandingkan misalnya dengan perkembangan budidaya gurame yang memiliki nilai jual lebih tinggi sehingga produksinya nyaris stagnan. Tantangannya, tentu saja, adalah bagaimana menciptakan produk dengan nilai jual yang murah. Bila diyakini 60-70% biaya produksi adalah pakan, maka menciptakan harga pakan yang murah adalah solusinya. Terobosan substitusi tepung ikan, komponen utama pakan ikan, dengan sumber tepung hewani lainnya, misalnya maggot, boleh jadi merupakan salah satu jawabannya. Cara lain adalah dengan memacu peningkatan produksi ikan-ikan yang secara alami merupakan kelompok herbivora, yang lebih banyak memanfaatkan daun-daunan dibandingkan dengan pakan buatan. Adalah sangat realistis untuk menurunkan harga jual gurame sehingga dapat dibeli masyarakat bila diproduksi dengan menyediakan daun-daunan yang mencukupi alih-alih diberi pakan buatan. Suatu komparasi yang sangat dekat adalah dengan produksi ikan Koan/Grass Carp, salah satu ikan herbivora, yang dilakukan oleh China.

Pasar ekspor adalah harapan yang menjanjikan. Bahkan dengan margin keuntungan yang tipis tapi dengan jumlah yang banyak tentu akan tetap memberikan nilai akumulatif yang besar. Sejauh produk yang kita miliki masih kompetitif, peluang ekspor masih tetap bisa diisi. Jalan lain yang bisa ditempuh adalah menciptakan peluang pasar dari produk yang kita punya. Sejatinya orang Amerika lebih kenal channel catfish namun ternyata Vietnam mampu mendobrak pasar Amerika dengan Pangasius. Mungkinkah kita juga bisa menciptakan gaung lele (pasar catfish) atau gurame (pasar cichlid)?

Tentu, kita harus mampu memproduksi ikan yang sesuai dengan permintaan pasar ekspor, misalnya ukuran konsumsi. Sementara pasar lokal kebanyakan hanya menghendaki ukuran kecil untuk konsumsi (misalnya lele hanya ukuran 7-8 ekor/kg atau nila 2-3 ekor/kg), pasar ekspor biasanya menginginkan ukuran besar (diatas 7 ons/ekor). Tentu saja, kondisi ini akan memaksa para pembudidaya memperpanjang masa produksi untuk mencapai ukuran ekspor. Apakah perpanjangan ini bisa memberikan peningkatan margin keuntungan? Lagi-lagi, kita semestinya bergerak mencari teknologi yang dapat mempersingkat masa produksi tersebut; sebutlah dengan membuat populasi ikan kelamin tunggal (nila sudah berhasil, dan harus segera dikerjakan pada lele) atau melalui perbaikan genetik agar ikan memiliki pertumbuhan lebih cepat.

Pada akhirnya, kesepahaman antara pemerintah, pengusaha dan pembudidaya perlu diperkuat. Karena kita yakin kita bisa menjadi yang terbesar.

juragan@n9300i