Alfred Russel Wallace (1869): The Malay Archipelago…

Alfred Russel Wallace (1869): The Malay Archipelago… (tapi yang dibeli edisi Bahasa Indonesia ‘Kepulauan Nusantara…2009) perlu untuk dibaca tuntas setelah Simon Winchester: Krakatoa… (lagi-lagi yang sudah diterjemahkan menjadi ‘Krakatau…). Kepulauan Nusantara diterima kemarin sore dan hingga saat ini merupakan buku termahal yang pernah dibeli. Tentu saja, baru pengantarnya saja yang usai dibaca.

Wallace, telah didengar sejak SMP ketika belajar peta buta kepulauan nusantara pada Ilmu Pengetahuan Sosial (dulu nama mata pelajarannya seperti itu). Tersadar lagi tentang Wallace pada Krakatau yang cukup mencengangkan. Karena pada Krakatua, seperti yang juga tertulis pada back-cover dan pengantar editor Kepulauan Nusantara, disebut bahwa teori evolusi Darwin lebih bersandar pada surat Wallace yang dikirim dari Ternate. Sehingga, cukup punya alasan untuk coba menelusuri apa yang Wallace laporkan dari perjalanannya di kepulauan nusantara.

Bila Winchester sukses menyambung dan mendeskripsikan beragam publikasi hingga menjadi bacaan yang sangat menarik dan enak dibaca, maka referensi publikasi terpenting Winchester, yang akan menjadi bacaan beberapa hari ke depan, adalah Kepulauan Nusantara.

juragan@E72

Kodok, Ahli Prediksi Gempa

Benarkah gempa tidak bisa dideteksi? Sejauh ini, prediksi gempa dengan pendekatan penggunaan beragam teknologi hasilnya belum konsisten, yang artinya belum dapat dipakai (BMG, 2009). Bagaimana bila prediksi dilakukan dengan pendekatan biologi?

Banyak perubahan perilaku binatang beberapa saat sebelum datangnya gempa. Anjing yang ribut menggonggong, kucing yang gugup melompat keluar rumah, burung yang ramai berkicau, tikus berlari keluar dari lubangnya, lebah berkerumun di luar sarangnya dan banyak lainnya adalah beberapa contoh yang sudah teramati (review Kirschvink, 2000). Kirschvink (2000) lebih lanjut mengatakan jika evolusi perilaku diperhatikan, sangat mungkin adanya hubungan antara getaran awal seismik kecil yang diterima oleh hewan kemudian dipersepsikan dengan tingkah laku penyelamatan diri hewan tersebut.

Meskipun gejala tersebut mungkin terlalu singkat untuk membuat suatu ‘prediksi’, namun untuk suatu ‘peringatan dini’, terutama untuk upaya penyelamatan diri, mungkin hal tersebut dapat digunakan.Laporan Grant & Halliday (2010) yang dipublikasi pada Journal of Zoology menyebutkan bahwa salah satu jenis kodok (Bufo bufo) diduga dapat mendeteksi adanya aktifitas seismik dan mengubah perilaku pemijahan ke modus perpindahan. Hingga 96% kodok jantan menggagalkan aktifitas pemijahan mereka lima hari sebelum terjadinya gempa bumi di L’Aquilla Italia pada tahun 2009. Bahkan, tidak ada kodok yang berpasangan pada tiga hari sebelum gempa terjadi. Lebih menariknya lagi, ternyata tidak ditemukan adanya pemijahan sejak gempa hingga lewat masa bahaya (gempa magnitude >4).

juragan@E72.otw

thank’s to our community (02/10)

thanks to you:

katanya calon MAFIA (masyarakat ahli fikir akuakultur