reproduction aspects on swamp eelBelut: pemijahan buatan dan pemeliharaan larva

Pemijahan semi buatan dengan manipulasi kondisi lingkungan alami dan percepatan pematangan gonad secara buatan dapat menghasilkan larva belut hingga 335.000 ekor. Sedangkan penetasan telur belut yang dikondisikan dengan busa alaminya dapat menghasilkan tingkat penetasan hingga 94% – 96%.

Compositions and functions of the hatching froth from ricefield eel (Monopterus albus Zuiew).

Artificial reproduction test of Monopterus albus under the imitation of natural breeding conditions

“carilah ilmu sampai ke negeri China” nampaknya berlaku untuk budidaya belut. Berbagai aspek budidaya belut banyak diterbitkan oleh para peneliti China sehingga nampaknya budidaya belut disana sudah maju, termasuk mengenai reproduksi dan pemeliharaan larva.

Pada publikasi Prof. BING XU-WEN (2005) disebutkan bahwa rangsangan pemijahan dengan manipulasi kondisi lingkungan alami bersama dengan upaya percepatan gonad secara buatan dapat menghasilkan larva belut hingga 335.000 ekor. Beliau juga menyebutkan bahwa kepadatan belut pada wadah pemeliharaan berpengaruh terhadap keberhasilan perkembangan gonad. Manipulasi lingkungan tersebut diyakini merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan untuk budidaya belut secara masal. Namun sayangnya, bagaimana cara manipulasi tersebut ditulis dalam literatur dengan huruf/bahasa China.

Sementara pada publikasi Dr. SHAOWU YIN (2008) disebutkan bahwa penetesan telur dengan tetap memanfaatkan busa alaminya dapat menghasilkan penetasan hingga 96,7% dan 94,2% masing-masing pada temperatur 25 oC dan 28 oC. Pemisahan telur dari busa kemudian ditetaskan pada kondisi air tergenang (tanpa aerasi) menghasilkan tingkat penetasan yang rendah (12,0%) sedangkan dengan menggunakan aerasi dapat lebih tinggi (70,6%). Hasil yang sejalan juga didapatkan untuk kelangsungan hidup larva. Beliau meyakini bahwa busa sangat berperan pada proses penetasan telur, termasuk keseragaman waktu penetasan, dan mampu menghambat infeksi terhadap telur oleh mikroorganisme. Pada literatur lain, Dr. SHAOWU YIN menegaskan kepadatan induk belut untuk pemijahan adalah 4 ekor/m2.

Dari dua makalah tersebut, nampaknya kita dapat menerapkan teknik manipulasi lingkungan untuk merangsang terjadinya perkawinan pada belut dan kemudian memanen telur yang dibuahi bersama busa alaminya untuk ditetaskan pada kondisi yang terkontrol.

Saya memiliki literatur tersebut yang dikirim oleh Prof. BING XU-WEN yang ditulis dengan huruf/bahasa China dan Dr. SHAOWU YIN yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Bagi yang memiliki kemampuan untuk membaca literatur dalam Bahasa China, mohon bantuannya untuk menerjemahkan.

Compositions and functions of the hatching froth from ricefield eel (Monopterus albus Zuiew).

Shaowu Yin and Yun Liu

The ricefield eel (Monopterus albus) is an economic fish species in China. To improve its artificial reproduction, we studied the compositions and functions of the hatching froth secreted by ricefield eels. The froth showed a viscosity of 2.72 mPaS, composed of glycoproteins with a sugar content of 0.156 mg/ml and a protein content of 0.250 mg/ml at a ratio of 1.60. The froth proteins were identified by SDS-PAGE as four proteins with the molecular weights of 42.5, 58.6, 65.3, and 98.2 kDa respectively. Their total amino acid content was 201.88 mg/100 ml, consisting of 16 kinds of amino acids. Filed observation revealed three beneficial effects of the froth on the hatching of the eel eggs. First, the froth increased the hatching rates of fertilized eggs at a range of water temperatures. Second, the froth decreased the rates of infection of the fertilized eggs by the water mold. Finally, the froth accelerated velum breakage in the fertilized eggs. Of the different hatching methods, froth incubation achieved the highest hatching rate and larvae survival rate. These results demonstrate the indispensable function of the froth of ricefield eels, and offer practical reasons for protecting the froth during the breeding season.

Ref: http://www.springerlink.com/content/6wu582602604h51u/

Artificial reproduction test of Monopterus albus under the imitation of natural breeding conditions

Bing XuWen

This paper briefly explains artificial reproduction of rice field eel (Monopterus albus) under simulated natural breeding conditions. Rice field eel was bred by accelerating the maturation of the gonads through artificial method. Male and female rice field eel were mated to produce as many as 335 000 fries at one time in 2003. Under artificial reproduction, the fertilization and hatching rates reached 85-89% and 82-93%, respectively. Because rice field eel belongs to spit and steep camp fish, low fecundity and unsynchronized male and female gonad development results in low fertilization rate of 6-22%. Saliva nest, a special physiological phenomenon during rice field eel breeding, can be used to improve the hatching rate of fertilized eggs effectively. Therefore artificial breeding is an effective way to increase the reproduction of rice field eel.

Ref: http://www.cababstractsplus.org/google/abstract.asp?AcNo=20053124359

11 comments

  1. Siti fairus says:

    I am from malaysia and undergoing master study about eel (monopterus albus) reproduction and breeding.May i know how to get the original journal about this species since i need information about this species for my study…Anybody can help me.? I am appreciate for those who can help me.
    Thank you

  2. JUAT says:

    untuk pangsa pasar di sumatra bagaimana…saya siap menyediakan belut konsumsi, tapi masih binggung dalam mendistribusikan komoditi ini..tolong berikan jalan terbaik atau kerjasama/relasi..ke email saya
    terimakasih..

  3. amiee says:

    sya lokasi di jember, minat utk budidaya belut. di mana saya bisa dapat benih yang dekat dengan lokasi? mohon informasinya. trims

  4. Dance_slamet says:

    Saya tinggal di kalianda,lampung.saya juga minat pengen coba ternak belut,tapi susah cari bibit belutny,mohon informasinya,thank!

  5. bison says:

    dapatkah saya memperoleh semua artikel cara pemijahan belut??dan bagaimana langkah2 terbaik untuk hasil yg maksimal??? makasih….

  6. wawan says:

    Sukarame, B.Lampung. saya ingin budidaya belut, tapi saya susah untuk mendapat kan bibit belutnya. mohon informasinya ke mail (www.wawan_kryo@yahoo.co.id). mturnuwon konco-konco

  7. iwonk mischaveli says:

    salam kenal, saya sedang mencoba pemijahan belut, mohon bantuan agar article dr Dr. Shaowu yin dan prof. Bing xu-wen dapat di share via email saya, trims..

  8. iwonk mischaveli says:

    Email saya: iwonk@rocketmail.com

  9. nuno says:

    Salam kenal nama saya Nono dari Purbalingga
    Kepada Yth Bpk. Sunarma
    saya kepingin banget mencoba pemijahan belut. Tapi saya belum tau cara-cara/teknik-tekniknya…saya mohon saran-sarannya untuk cara-cara pemijahan tersebut. untuk artikel selengkapnya mohon kirim ke alamat email nuno_28@yahoo.com.
    sebelumnya terimakasih atas bantuanya.
    salam nono
    trimakasih

  10. toper says:

    mohon dikirimkan artikelnya ke email saya, chraise_trooper@hotmail.com

    trims.

  11. DEVY says:

    MOHON DIKIRIM ARTIKEL LENGKAP CARA PEMIJAHAN BELUT.BESERTA TEKNIK BETERNK,KE ALAMAT DEVY.DIVA@YAHOO.COM

Leave a Reply