#Road2Village: Inikah sekolahan kami?

Road2Village

Kami bercerita tentang anak-anak yang sekolah di sebuah SD di pinggiran desa. Jangan bayangkan seperti majunya sekolah yang setingkat di perkotaan. Nampaknya, perbedaannya terlalu jauh bahkan sangat jauh.

Setiap tahun, jumlah anak yang terdaftar sekolah sekitar 250-300 orang. Jumlah yang cukup banyak untuk rata-rata di tingkat kecamatan. Namun, nyaris tidak pernah ada yang melanjutkan ke SMP/MTs (untungnya ada yg mau melanjutkan ke SMP satu atap beberapa tahun belakangan ini, yang lokasinya berdampingan dengan SD).

Dalam setahun, nyaris tidak ada hari dengan jumlah anak yang lengkap dalam satu kelas. Padahal jam sekolah sudah ditolerir hanya dari jam 8 sampai jam 12. Ketika dicoba dilewatkan dari waktu tersebut, dengan berbagai alasan (yang mau tidak mau harus diterima daripada kehilangan anak secara keseluruhan) orang tua berdatangan ke sekolah meminta anaknya pulang lebih dulu. Jangan ditanya ketika musim tanam atau mendekati dan saat musim panen datang. Sebagian anak-anak bahkan dibawa menginap berhari-hari di ladang oleh orang tuanya. Bahkan untuk mereka yang tidak menginap, anak-anak ini mempunyai kewajiban menjaga adik-adiknya di rumah.
Read More

Pantai Palangpang, Ciwaru, Teluk Ciletuh

Lama tidak bersua,
Kau tetap bersenyum,
Memberi jiwa, memberi hati,
Alamimu
Meski potret keburaman masih bernoktah

“…….
Cimarinjung jiga nu nguyung
Palangpang nu matak salempang
……..”

#CountryRoad #Palangpang
Hamparan pasir di Pantai Palangpang. Diujung adalah Curug Cimarinjung.
Read More

#UjungSelatanNegeri

Kami menyebutnya cuma burung Caladi. Pohon petai adalah favorit burung ini mencari ulat dan bersarang. Dibanding burung kicau, Caladi tidaklah termasuk pilihan untuk kami pelihara. Pun kalau berburu untuk dimakan, lebih sering dibiarkan saja.

Namun, Caladi sempat dianggap “hilang”, ketika penggundulan hutan merajalela di awal reformasi 10-15 tahun lalu. Kami kehilangan bunyi “tuk…tuk…tuk” yang menjadi ciri khas burung ini ketika membuat sarang atau bahkan mencari makan di batang pohon. Bersamaan dengan itu, kami juga nyaris kehilangan cericit kicau di pagi hari. Bukan cuma tekukur dan kutilang, bahkan semacam ciplek dan beureum seupah, entah pergi kemana.

Caladi
Read More