Bawal Air Tawar: Peluang atau Ancaman?

Secara finansial, usaha budidaya ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum), cukup menggiurkan karena proses produksi dapat berlangsung cukup singkat, pemijahan (jual larva) sekitar 2 – 3 minggu, pembenihan (jual benih) sekitar 1 – 2 bulan dan pembesaran (jual ukuran konsumsi) sekitar 3 – 5 bulan. Secara ekologi, ikan ini dianggap sebagai “perusak” karena dapat menjadi predator bagi ikan lain dan mengancam kelestarian biodiversitas ikan asli perairan Indonesia. Apakah kita murni seorang pengusaha ikan (baca: tengkulak atau bakul), penyelamat lingkungan (conservationist) ataukah pembudidaya ikan (aquaculturist)???

Budidaya ikan bawal air tawar relatif mudah dilakukan. Pemijahan dapat dilakukan secara induced-spawning: induk yang sudah matang gonad dirangsang dengan penyuntikan hormon kemudian dipijahkan secara alami. Tempat pemijahan cukup menggunakan kain hapa yang disimpan di dalam bak tembok ataupun di kolam. Telur yang dikeluarkan induk betina dan sudah dibuahi oleh sperma induk jantan dapat dipanen kemudian ditetaskan di dalam akuarium atau hapa penetasan. Larva hasil penetasan dapat bertahan dengan yolksack yang dibawanya sampai 4 – 5 hari setelah penetasan sebelum kemudian diberi pakan Artemia. Cukup dengan pemberian 2 – 3 kali per hari selama hanya 2 – 3 hari, larva sudah dapat dijual atau ditebar ke kolam. Pendederan dan pembesaran di kolam relatif tidak sulit dilakukan. Pertumbuhan ikan relatif cepat meskipun memerlukan kandungan oksigen yang mencukupi melalui aliran air ke kolam. Pakan yang diberikan dapat beragam mulai dari pakan buatan, sisa-sisa sayuran, ikan yang lebih kecil bahkan sampai biji kapuk. Kemudahan-kemudahan tersebut telah mendorong para pengusaha ikan (baca: tengkulak atau bakul) memacu produksi ikan ini yang menyebabkan perkembangan budidayanya sedemikian cepat dan berkembang di banyak tempat bahkan cenderung tidak terkendali.

Beragam pakan yang dapat dimanfaatkan ikan ini nampaknya didukung oleh sifat biologis ikan itu sendiri, diantaranya memiliki gigi yang relatif tajam. Dengan kondisi seperti itu, secara alami, ikan ini cenderung bersifat predator terhadap ikan lain. Sifat tersebut diyakini dapat merusak kondisi ekologis lingkungan dimana ikan ini masuk sebagai ikan baru. Peluang tersebut diperbesar oleh kemungkinan ikan ini dapat berkembang, baik somatik maupun reproduksi, di perairan Indonesia karena adanya kemiripan dengan habitat aslinya di Amazon, yaitu berada di garis wilayah trofis. Bukti perkembangan somatik sudah nampak dengan ditemukannya ikan ukuran relatif besar di sungai/waduk sedangkan perkembangan reproduksi sampai pemijahan secara alami di perairan bebas belum dapat dibuktikan. Namun demikian, bukti perkembangan somatik kemudian juga dikaitkan dengan adanya kerusakan wadah budidaya yang diakibatkan ikan ini, diantaranya jebolnya keramba jaring apung di waduk. Berdasar kekhawatiran atas kondisi tersebut, kemudian memunculkan berbagai rekomendasi/pendapat dari para penyelamat lingkungan (conservationist) untuk melarang budidaya ikan ini di Indonesia.

Tentu, perlu upaya bijak untuk dapat memanfaatkan kelebihan ikan ini sebagai sumber pendapatan bagi para pembudidaya ikan dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan asli dan habitat perairan kita. Produksi benih hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan para segmen pembesaran sehingga tidak ada lagi benih yang dibiarkan hidup di kolam, yang akhirnya lepas ke perairan umum tanpa kendali. Proses pendederan di kolam juga perlu diperhatikan agar tidak ada lagi benih ikan ini yang tercampur ke ikan lain, misalnya nila atau mas, yang kemudian ikut terbawa ke keramba jaring apung dan dapat merusak jaring dari dalam. Perkembangan kemampuan reproduksi secara alami di perairan bebas juga perlu diteliti secara akurat untuk memastikan kemungkinan tingkat perkembangan ikan ini di perairan Indonesia, sejalan juga dengan penelitian terhadap kemampuan ikan ini untuk merusak keramba jaring apung dari luar. Lebih lanjut, perlu juga diteliti kemungkinan ikan ini dapat mendesak ikan lain pada suatu relung yang sama, seperti yang diyakini telah terjadi pada kasus lele dumbo yang mendesak relung lele lokal. Upaya-upaya itulah yang seharusnya dapat dijawab oleh pembudidaya ikan (aquaculturist).

Note:
Ini adalah blog-ulang dari https://indoorcommunity.wordpress.com/

Kalibunder: Sejarah

Ketika sekolah di SMA, saya lebih senang mnuliskannya “XO” untuk kampung asal “Kalibunder”. Wajar, bila kemudian, saya cukup dikenal dengan nama “si XO” (eks o), alih-alih dikenal sebagai orang kalibunder.

Kalibunder merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Sukabumi. Selain sebagai nama kecamatan, nama kalibunder juga merupakan nama tempat yang dulunya perkampungan (tarikolot). Ini cukup berbeda dengan nama daerah lain yang biasanya hanya penamaan pada kecamatan/kabupaten, misalnya Sukabumi, karena tidak ada nama kampung Sukabumi.

Nama “kalibunder” cukup khas untuk daerah Jawa Barat (Sunda), karena diluar pakem penamaan daerah dan lebih bernuansa bahasa Jawa. “Kali” (Jawa) adalah sungai atau wahangan (Sunda); biasanya tempat di tatar sunda menggunakan istilah “Ci” dari kata “cai”. “Bunder” (Jawa) adalah bulat atau buleud (Sunda); beberapa tempat menggunakan kata “buleud”, misalnya Tegalbuleud atau Gunungbuleud. Tentu jadi pertanyaan, kenapa ada nama Jawa di tatar Sunda.

Tahun 95′an, saya sempat menelusuri tempat kalibunder. Sebuah bukit yang dikelilingi parit/selokan/sungai. Kata cerita, di bukit itu ada makam/pajaratan sesepuh pendiri kalibunder. Sayangnya, yang katanya parit hanya ditemukan sawah dan bukit hanya tersisa saung/dangau. Entahlah, mungkin saya salah tujuan.

Akhirnya, saya dapat cerita kalibunder dari seorang sesepuh, Bapak Risman Sumantri

Di Pajaratan Kalibunder aya Makom leluhur urang Kalibunder nu namina Raden Jaya Raksa, Raden Nayasentana, Mbah Kondang Hapa. Eta duanana teh Gegeden Pentolan Kerajaan Mataram (Jogjakarta) ari Mbah Kondang Hapa mah ti Sumedang,

Mangsa rengsena ngajorag VOC di Batavia eta dua gegeden teh teu mulih deui ka Kerajaan Mataram tapi milari hiji tempat anu astri kanggo niis sareng nyebarkeun ajaran Islam, dugi ka mantenna menak hiji bukit atawa pasir anu dikurilingan ku susukan, nya ti harita eta patempatan teh disebut Kalibunder.

Sareng kapungkur mah puseur dayaeuh teh tempatna di Kalibunder atanapi sekitar Makom tea, Kadieunakeun nya direlokasi ku Walanda ka daerah Sukasari ayeuna dugi ka nami desana oge tetep nganggo nami lama nyaeta Kalibunder. Walanda gaduh visi srg misi ka payuna daerah Kalibunder lama perlu dijadikan hutan sebagai resapan air. Tah ari Makomna nu di Parigi Gunung Patat mah namina Mbah Rangga Sena eta teh Panglima Perangna Karajaan Pajajaran anu agamana masih Hindu keneh. Mantenna kawilang hiji jalmi anu sakti mandraguna.

Carios anu ku pribados disebatkeun teh kapungkur mah aya diserat dina daun lontar anu dicepengna ku Kuncen Kalibunder sareng Tanjung nyaeta namina Mandor Emuh namung ku salah sawios tokoh Kalibunder (moal disebatkeun namina) daun lontar eta teh diduruk pajarkeun teh cenah sok bisi kahareupna anak-incu nu ngaku urang Kalibunder bisi sararombong lamun nyahoeun yen karuhuna lain jalema samanea.

#InovasiLele #LelePakujajar

#InovasiLele #LelePakujajar

Dalam budidaya lele, ada saja yang bilang, untuk apa teori….. yang penting itu praktek…..
Tidak salah sih, tapi mungkin hanya “sedikit” khilap bahwa teori dikembangkan dari praktek.
Pengalaman dari prakteklah yang kemudian menjadi teori. Pengalaman sendiri dan orang lain.
Termasuk yang penting adalah pengalaman orang lain yang sudah dipublikasikan secara ilmiah.
Menjadi sangat penting adalah adopsi publikasi ilmiah tersebut ke dalam praktek kita.
Adopsi berbeda dengan copy-paste. Adopsi disesuaikan dengan kondisi setempat.
Memahami teori ilmiah adalah seni tersendiri apalagi ketika diterapkan.
Kegagalan memahami teori bisa jadi awal jalan ke arah kerugian.
Tidak mengetahui teorinya bisa berarti sudah menentukan jalan untuk kegagalan.
Memang, dari (pengalaman) kegagalan itu kita bisa belajar (kemudian menjadi teori) untuk mencapai keberhasilan.
Tapi, tentu ada plihan: perbanyak pengalaman gagal sampai bisa berhasil atau perbanyak teori untuk mengecilkan peluang kegagalan dalam penerapan.
Saya memilih yang kedua, meskipun kemudian dikatakan seperti yg diawal saya tulis.
Karena saya memilih yang kedua, makanya saya menulis di blog ini. Sesingkat apapun.