Analisis Usaha Budidaya Ikan Lele

Analisis usaha ini dibuat atas dasar keinginan untuk membuat suatu aplikasi yang mobile yang dapat digunakan secara praktis oleh para pembudidaya. Karena membuat aplikasi mobile tidak cukup waktu dan harus belajar lebih dalam lagi, sementara sebagai pendahuluan dibuat dulu aplikasi yang web-based. Ke depan, harapannya, aplikasi ini sudah lebih lengkap dan dapat dijadikan panduan investasi dan operasional usaha budidaya ikan lele.

Mohon data yang muncul tidak dijadikan satu-satunya patokan. Analisis usaha ini dibuat dengan asumsi-asumsi yang paling optimis sehingga diperlukan perhitungan yang lebih detil untuk dapat diterapkan.

Asumsi:

- Kualitas benih : Baik
- Kelangsungan hidup: 90%
- Pemahaman budidaya: Terampil
- Tidak ada serangan penyakit

- Bak berbentuk bulat/persegi panjang dengan luas 50 m2
- Lahan belum termasuk kebutuhan sarana pendukung, misalnya rumah jaga, tempat packing dll

Prakiraan Biaya Usaha Budidaya Ikan Lele




Lele Sukhoi: jualan nama tanpa produk (2)

Ada yg tanya, kenapa baru sekarang saya menulis tentang lele sukhoi.

Ada beberapa hal yg melatarbelakangi:

1. Strategi proses produksi induk lele yg terkait dg swasta sudah saya sampaikan pada pertemuan jejaring pemuliaan induk tahun lalu. Dampak strategi tsb sudah dibahas secara internal,
2. Saya menerima banyak pertanyaan tentang lele sukhoi dari masyarakat, termasuk 1-2 minggu lalu dari pejabat DJPB yg kemudian menyarankan/meminta saya untuk mengcounter/menjelaskan mengenai hal tersebut
3. Setelah tahun lalu dirilis, bulan ini benih hibrida lele Sangkuriang2 telah launching sehingga penyebaran bisa makin meluas.
4. Kalaupun ada hasil negatif mengenai performa lele Sangkuriang, sudah saya publikasikan mohon disampaikan ke BBPBAT yg kemudian akan dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan masa datang.
5. Diskusi, posting dan komentar di media sosial yang terkesan menabrakkan lele Sangkuriang2 dengan lele Sukhoi makin mengemuka pada minggu-minggu ini, termasuk juga issue mengenai beragam populasi/strain lele yg dibudidayakan. Menjelekkan produk orang lain demi meningkatkan citra produk sendiri di media sosial merupakan tindakan yg tidak etis, apalagi kalo produk yg diklaim juga merupakan produk orang lain

Kenapa saya harus yg melakukan:

1. Saya sudah menunggu ada yg melakukan klarifikasi dari pihak berwenang sejak nama lele sukhoi muncul, lebih khusus sejak pertemuan jejaring pemuliaan induk. Sayangnya, harapan saya tidak menemui kenyataan
2. Saya mengetahui histori lele Sangkuriang, lele Sangkuriang2, lele phyton, lele sukhoi dan lele populasi lain yg pernah saya posting. Saya dapat mempertanggungjawabkan validitas informasi yg saya punya, termasuk saya bersedia mengubahnya bila ada fakta valid yg berbeda
3. Saya menganggap saran/permintaan pejabat DJPB merupakan perintah meskipun tidak resmi. Saya berkeyakinan, perintah tsb akibat ketidaknyamanan terkait dg issue lele sukhoi yg mengemuka di media sosial
4. Saya merasakan bagaimana tim lele Sangkuriang dan Sangkuriang2 bekerja hingga saya merasa ikut memiliki lele tersebut. Tentu saja, kalo ada orang yg menyerang kedua lele tsb dg tidak fair, saya akan melawannya!
5. Saya berharap ada kejujuran dalam kita berusaha sehingga pembudidaya mendapat manfaat yg sebesarnya.

Lele Sukhoi: jualan nama tanpa produk

Nama lele sukhoi mengemuka nyaris seiring dg munculnya ikan lele Sangkuriang2. Kasus ini mengingatkan pada nama lele phyton yg sempat populer bersamaan dengan penyebaran lele Sangkuriang (tahun 2004). Kedua lele sukhoi dan phyton terentang jarak nyaris 10 tahun, namun menyajikan kemiripan kasus: “klaim dan besarkan nama meski produk punya orang”.

Bukti ketelusuran yg pernah dikonfirmasi dan dimunculkan di media sosial menunjukkan asal usul lele Sukhoi adalah lele Sangkuriang. Historinya adalah berikut: Larva calon induk lele Sangkuriang dari BBPBAT dilengkapi dengan Surat Keterangan Asal (SKA) dikirim ke instansi pemerintah yg lain. Strategi ini telah disepakati di Jejaring Pemuliaan Induk Ikan Lele. Namun kemudian, ada sebagian larva/benih tersebut yg kemudian pindah tangan ke pihak swasta. Proses produksi terus dilakukan sampai mencapai ukuran induk atau calon induk. Nyaris bersamaan dengan ketika produk tersebut sudah siap jual, nama lele Sangkuriang2 muncul. Lele Sangkuriang2 ini sudah melalui proses produksi yg cukup panjang dengan data yg dapat dipertanggungjawabkan sehingga dinyatakan layak untuk dibudidayakan seiring dengan keunggulan yg dimilikinya. Sempat beredar kabar adanya ketersediaan induk lele Sangkuriang2 yg dihubungkan dengan produk hasil pembesaran oleh pihak swasta diatas. Mungkin menghindari polemik lebih lanjut, akhirnya lele calon induk hasil pembesaran oleh pihak swasta tersebut diberi nama dan dikenal sebagai lele Sukhoi. Kalo SKAnya jelas disebut lele Sangkuriang tapi dijual dengan nama lele Sukhoi, apa artinya? Karena tidak punya produk sendiri, sangat beralasan juga bila pada kenyataannya saat ini, stok lele sukhoi saat ini cuma tinggal dipakai sendiri alias sudah tidak ada stok yg bisa diperdagangkan.

Produk yg didagangkan/diklaim sebagai lele sukhoi hanya berupa induk betina lele tapi kebanyakan dijual dengan pasangannya jantan lele masamo. Tentang performa benih-pembesaran hasil pasangan ini dan lele masamo itu sendiri tidak akan ditulis disini. Hasil pasangan itu pasti terpengaruh masamo sedangkan masamo sendiri merupakan produk dengan pemilik yg jelas. Baik atau buruk performanya, tidak cukup etis untuk dibuka di publik. Lebih fair untuk dikomunikasikan langsung ke pemiliknya.

Terkait dengan lele sukhoi ini, Saya sudah memberi saran (dan akan membantu) ke pihak swasta untuk melakukan proses produksi induk sendiri, termasuk pasangan jantannya. Dengan cara ini, pihak swasta tidak harus mengklaim nama lele sukhoi untuk lele sangkuriang. Saya menyarankan demikian untuk menghindari kasus lele phyton terulang kembali dan sebagai bentuk dukungan pribadi terhadap kemajuan budidaya lele di tanah air.