#200thSOEKABOEMI

Apa sih pentingnya kelahiran sebuah (nama) kota/daerah? Sebagian mungkin mengidentikkan dengan capaian kemajuan/keterbelakangan, sebagian mungkin menganggap sebagai pengingat sejarah dan identitas, sebagian mungkin menunggu beragam perlombaan (seperti 17an), dan sebagian lainnya (mungkin porsi terbesar) skeptis dan tidak menganggap penting.

Versi resmi pemerintahan, kelahiran Kota Sukabumi diawali 01 April 1914 sedangkan Kabupaten Sukabumi 01 Oktober 1945. Pada beragam diskusi yang saya ikuti di grup Soekaboemi Heritage, terungkap bahwa nama SOEKA BOEMI pertama kali tersurat pada surat Dr. Andries de Wilde pada tanggal 13 Januari 1815. Nama tersebut diusulkan oleh seorang warga (bernama Inen) pada pertemuan dengan de Wilde. Sehingga kemudian, warga sukabumi (setidaknya di medsos), menganggap perlu bahwa kelahiran SUKABUMI dihitung sejak tanggal tsb, yg berarti hari ini adalah ulang tahun Sukabumi yang ke-200.

Saya termasuk yang setuju dengan versi dari de Wilde, apapun arti pentingnya kelahiran nama tersebut. Sehingga, tanggal 13 Januari harusnya bisa diperingati sebagai hari lahir KOTA SUKABUMI, KABUPATEN SUKABUMI, dan KABUPATEN LAIN yang mungkin muncul sebagai pamekaran dari Sukabumi.

Dirgahayu Sukabumi

#200thSOEKABOEMI

7 Tahun go-Blog

Saya hanya berharap, blog ini tetap dapat memberi manfaat bagi siapapun yang memerlukan.
Setidaknya, saya harap, blog ini bisa memberi info awal bagi siapapun yang “menggantungkan” informasi pada internet, agar tidak terjebak di jalan yang salah ketika terjun pada usaha budidaya ikan.

sunarma.net 7 tahun go-blog

29/7/2014 – 29/12/2014

Meskipun lebih banyak terkait dengan perikanan budidaya (akuakultur) tapi konten yang saya tampilkan bisa apa saja yang memang ingin saya tampilkan.
Meskipun konten yang saya tampilkan seringnya tidak tuntas, itu semata-mata kekhawatiran saya akan adanya kesalahan persepsi dari pembaca karena, saya yakin, kita sulit menstandarkan suatu teknik ketika terkait dengan pemeliharaan mahluk hidup.
Meskipun jarang update (selama 7 tahun hanya 196 posting atau rata-rata 2-3 posting per bulan), itu semata-mata karena keterbatasan kemampuan saya untuk menulis dan pertimbangan konten yang harus disajikan.
Meskipun sering kembang-kempis ketika datang tagihan sewa hosting dan domain, saya tetap usahakan untuk bisa survive.
Read More

Kanibalisme pada Larva Lele Lepas Kuning Telur

Hasil penelitian menunjukkan kematian lele pada tahap pendederan pertama (dua minggu pertama pemeliharaan) lebih banyak disebabkan oleh kanibalisme daripada penyebab kematian lainnya (Adamek et al., 2011). Selain itu, kondisi gelap memberikan pengaruh yg signifikan terhadap peningkatan survival dan menekan kanibalisme. Publikasi tsb meneliti variasi umur/size induk dan photoperiod, tapi lebih ditekankan pd aspek kanibalisme bukan hanya kematian secara umum. Kondisi riset di indoor dan tentu terkontrol. Pakan diberikan sekenyangnya 6x per hari: 3-4 hari pertama pakai artemia, selanjutnya pakai pakan buatan. Sehingga, KEMUNGKINAN kanibalisme bukan hanya sekedar “kelaparan”. Pakan buatan pada riset ini size 0.2 mm. Kepadatan penebaran 100 ekor per liter. Ikan mati pd riset ini diambil setiap pagi dan sore sehingga bisa dipisahkan dari kehilangan/kematian larva akibat kanibalisme

Kanibalisme pada larva lele

Tantangan kita adalah bagaimana menekan kanibalisme pada sistem outdoor di masyarakat. Atau setidaknya, kita belajar memahami bahwa kehilangan larva bukan sekedar kematian biasa tapi lebih karena kanibalisme. Diskusi mengenai hal ini sudah dilakukan di facebook.

Beberapa ide, saran dan pengalaman aplikasi di lapangan yang terkait dengan hal ini diantaranya:
- Menggunakan media air yang lebih gelap. Pada kondisi outdoor, bisa dilakukan dengan menghijaukan air (mendorong pertumbuhan plankton)
- Penebaran larva yang tidak terlampau padat. Sayangnya, belum ada data pendukung untuk hal ini. Sebagai perbandingan, riset diatas menggunakan kepadatan 100 ekor/Liter yang setara dengan 1.000 ekor/m2. Meskipun ada juga pengalaman, padat tebar hingga 5.000 – 6.000 ekor/m2 pada kondisi kolam outdoor.
- Frekuensi pemberian pakan yang ditingkatkan. Sebagai perbandingan, pada riset diatas pakan diberikan 6x per hari. Bila pakan yang diberikan berupa cacing cacah atau pakan buatan, nampaknya frekuensi perlu ditingkatkan. Ada indikasi, larva lebih cenderung menyerang kawannya pada kondisi lapar. Akibat luka serangan (ini harus dibuktikan secara mikrovisual), larva menjadi lemah sehingga peluang untuk kematian atau diserang kembali menjadi lebih besar.
- Menjaga temperatur dan kualitas air lainnya tetap stabil untuk menekan terjadinya stress pada larva.
- Pemeliharaan pada populasi total yang lebih kecil (wadah lebih kecil) meskipun dengan padat tebar yang sama. Perilaku larva cenderung menumpuk pada beberapa area kolam sehingga pada area tersebut kepadatan menjadi meningkat sementara pada area lain kosong. Pemeliharaan dengan populasi total lebih rendah diharapkan bisa menghindari terjadinya kondisi tersebut.
- Kedalaman air diduga berpengaruh terhadap kanibalisme. Pengalaman lapangan tinggi air 40-45 cm sudah memberikan hasil yang bagus. Pada riset ini, kedalaman air sekitar 25 cm. Kedalaman air juga dapat membantu mengurangi belanja energi akibat aktifitas berenang naik-turun ketika fase pembentukan organ pernapasan tambahan. Namun perlu diperhatikan, kedalaman air yang lebih rendah dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi temperatur yang lebih tinggi pada kondisi kolam outdoor.
- Perlu dicoba untuk penambahan unsur Fe pada pakan. Unsur Fe akan meningkatkan kadar Hb dalam darah sehingga pengikatan oksigen menjadi lebih tinggi. Kondisi ini bisa menurunkan tingkat kanibalisme pada larva udang.
- Perlu juga dicoba lebih lanjut penggunaan buah mengkudu untuk mengurangi tingkat kanibalisme.

Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah memberikan ide/saran/pengalaman. Adi Sadewa, Lele Sangkuriang Cikampek, Progo Farm, Faharizi Faf, Yoes Padjadjaran Putra, Akhmad Fairus Mai Soni, D’Patil Farm, Bennie Suterisno dan para komentator lain.

Selamat mencoba menerapkan dan mudah-mudahan sukses.