ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Bagai durian runtuh yang tidak dijajakan. Pertama kali lihat gambarnya membuat mata tak bisa berpaling, dan ketika merasakan, beuhhhh, kenyataan yang sulit dilupakan. Cinta, dari mata turun ke hati. Cuma sayangnya, rasanya seperti tidak pernah dijajakan dengan tidak pernah ditemukan muncul di beranda id.asus.com (untung ada di asus.com/us/), sehingga harus bersabar menelisik kesana kemari untuk mendapatkan gambaran spesifikasi lengkapnya. Itulah, si Ayang Asus VivoBook X202E yang telah mendampingi sejak bulan Januari 2013 dan dengan beragam keunggulannya, nampaknya, akan setia menemani “#LifeNote in 140 dots” setidaknya untuk 3-4 tahun ke depan *pede (kecuali ada yang berbaik hati, misalnya Asus, memberi gratis yang lebih ciamik *ngarep). Itulah si Ayang Asus VivoBook X202E dengan penampilannya yang elegan, telah mendukung kepercayaan diri untuk tampil pada “petualangan” di Asia (Vietnam) dan Afrika (Kenya) *amazing. Itulah si Ayang Asus VivoBook X202E yang sudah digariskan untuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam melakukan penelitian dan menyusun disertasi *dream. Itulah si Ayang Asus VivoBook X202E, bagai dapat durian runtuh dengan segala kelebihan performa yang dimilikinya, yang dapat diandalkan untuk melakukan beragam analisis data, padahal dengan harga yang terjangkau *perfect. Itulah si Ayang Asus VivoBook X202E, notebook terbaik yang dengan sepenuh hati berkeyakinan “setengah hidup” sudah disimpan dan terus bertambah di dalamnya *trust.

IMG_2951--

Si Ayang ini adalah suksesor dari pendahulunya, si Cilik netbook (si Ayang dan si Cilik ini diproduksi oleh pabrikan yang berbeda). Si Cilik sudah saatnya diturunkan karena sudah terengah-engah ketika dibawa berlari multi-tasking. Kalau cuma multi-tasking office sih nggak masalah, tapi ketika harus dijejali dengan aplikasi analisis gambar ImageJ, si Cilik sering kehabisan napas, apalagi harus bersatu dengan analisis statistik sesederhana Past, si Cilik semakin terhuyung sebelum akhirnya beberapa kali kolaps.

Dari pertimbangan kebutuhan pemakaian, persyaratan awal suksesor si Cilik tidaklah terlalu tinggi. Yang penting harus sudah membawa OS yang up to date (daripada harus beli yang original secara terpisah, malu dong kalau harus pakai bajakan), prosesor yang cukup (tidak harus yang tinggi banget, cukup untuk kerja analisis gambar bukan berat main game atau buat pengolah gambar, sehingga i3 hingga i7 tidak menjadi syarat mutlak, yang penting bukan sekelas celeron atau atom), tetap ringan ketika digendong (bagaimanapun harus mendukung mobilitas termasuk nyaman kerja laptop diatas paha, syukur kalau bisa seringan si Cilik), baterei yang cukup (pengalaman menunjukkan kerja pada kondisi out of colokan paling banter cuma 2-3 jam; itupun biasanya diakali dengan wifi dan musik di-off untuk dapat memperpanjang setrum), display kurang dari 14 inchi (biar ringan tapi 14 inchi terlalu makan tempat dan, toh, dengan display 10 inchi si Cilik saja masih tetap nyaman di mata) dan spek lain (koneksi bluetooth, wifi dan suara) cukup standar saja (yang penting bisa konek dan denger musik, itupun memang jarang dipake). Namun, diatas itu semua ada persyaratan terakhir tapi jadi yang utama yaitu harus sinkron dengan isi saku (ini adalah nasib mahasiswa dengan beasiswa yang pas-pasan, pengen keren tapi tanpa “n” alias kere), termasuk cadangan untuk membeli lisensi office (masa OS ori tapi office pake bajakan siih? Mending instal ‘trial’ berulang daripada pake bajakan).

Beberapa waktu setelah Windows 8 keluar, petualangan mencari spesifikasi yang diharapkan dimulai. Karena Sukabumi hanya kota kecil dengan ketersediaan dan keragaman stok notebook di toko komputer yang sering kali terbatas sedangkan untuk menyengaja ke Bandung atau Jakarta memerlukan waktu khusus, maka pencarian awal cukup dilakukan di internet. Rencananya, kalau sudah dapat yang cocok, akan kontak kawan di Bandung atau Jakarta untung hunting dan comparing harga. Namun ternyata, setelah mengubek-ubek beberapa website produsen notebook (yang sering kali cukup membingungkan dengan pilihan yang sangat beragam), tidak banyak notebook yang sesuai dengan syarat diatas, tentunya terutama yang pas dengan syarat terakhir. Hingga awal tahun 2013, notebook dengan bawaan Windows 8 masih relatif terbatas dengan harga yang cukup tinggi karena memang membawa spek yang tinggi pula *nggakkuat. Memang disebut ada fasilitas free update ke Windows 8 bila membeli Windows 7 pada periode tertentu, tapi rasanya, itu bukan pilihan yang tepat alias nambah pekerjaan dengan beragam kekhawatiran kompatibilitas hardware. Lagian, buat apa beli yang lama kalau yang baru sudah tersedia. Dengan ketiadaan pilihan yang cocok, nyaris saja sampai pada keputusan untuk bersabar lebih lama memakai si Cilik alias menunda lebih lama rencana suksesi si Cilik.

Sampai kemudian, pada bulan Desember 2012, bertemulah dengan Asus VivoBook X202E yang rasanya masih terkejar untuk syarat terakhir dengan spek yang memadai plus dapat “bonus” touchscreen (bonus paling keren karena hape aja masih berbasis keypad). Sayangnya, spek tidak cukup lengkap di website yang memuat harga. Sayangnya lagi, nyaris tidak ditemukan infonya di beranda id.asus.com (bahkan dengan fasilitas “pencarian” sekalipun, tipe ini tidak ditemukan; Tapi untungnya oom gugel bisa memberi jalan ke asus.com/us). Makin parahnya, tidak ada kawan yang memiliki pengalaman pakai notebook Asus yang bisa memberi testimoni mengenai performa dan daya tahannya (bagaimana akan dapat testimoni, orang yang lain saja biasanya minta masukan/pertimbangan kalau mau beli laptop; Dan selama ini, Asus tidak pernah disebut untuk jadi pilihan pembelian). Asus, merk yan sudah lama mendengar namun tidak pernah bersentuhan langsung. Tentu jadi dilema tapi nyaris tidak ada pilihan lain. Keraguanpun masih tersimpan ketika kebetulan ada keperluan ke Bogor di Januari 2013. Meski tidak niat banget, tetap saja ketika masuk mall tongak-tengok melihat notebook yang berjejer di pajangan. Dan, hup, tiba-tiba mata terhenti pada suatu tampilan casing yang cukup berbeda dengan merk ASUS yang terpancang jelas dan ukuran display yang nampak relatif kecil. Didekati, eh, ternyata casing warna silver yang membuat terpana bukan terbuat dari plastik sehingga nampak eksklusif sekali. Iseng-iseng tanya si mbak penjual “ini tipe apa, mbak?”. Nyaris sambil lalu, si mbak menjawab “X202E”. Woowww… Ini toh barangnya. Rasanya, penampilannya sangat berbeda dengan gambar yang terlihat di internet. Sangat memikat yang membuat mata tidak bisa lepas memandangnya. “Bisa lihat dulu” …. “Ada spek lengkapnya” …. ”Harga berapa?” …. Aahhh, pura-pura belum pernah baca spek dan lihat harganya aja. Ujung-ujungnya, “Bisa turun lagi?” …. “Dapat bonus apa?” (masih aja minta bonus tambahan) …. “Ada garansi resmi?”. Akhirnya, setelah tawar-menawar, jadilah dibeli dengan berulang minta jaminan dari toko bahwa barang tersebut dapat garansi resmi dari Asus (maklum, karena itu tadi tidak ada di website id.asus.com). Yaa, dengan 5,7 juta (setidaknya masih lebih rendah dari harga yang ditemukan di internet), dapat laptop dengan original Windows 8, penampilan menggoda dan sambil juga berharap bonus touchscreen-nya bisa bermanfaat selain cuma keren-kerenan.

Pada awalnya, boleh dikata tidak ada kejutan yang lebih ketika si Ayang VivoBook X202E dipakai multitasking. Semuanya berjalan sesuai yang diharapkan. Office, ini yang pertama dan paling penting sesuai dengan tuntutan pekerjaan, ternyata lancar berdampingan dengan aplikasi statistik sekelas Minitab (tentu saja hanya versi trial) untuk analisis data hasil riset atau dengan aplikasi analisis gambar ImageJ (yang ini free software http://imagej.nih.gov) untuk menghitung diameter butiran telur. Laptop VivoBook X202E juga nyaman nempel di punggung untuk selama perjalanan dan tidak membebani ketika harus diletakkan di paha. Dari sisi bobot, si Ayang ini memberikan kenyamanan seperti bekerja dengan si Cilik netbook. Si Ayang ini juga memiliki ketahanan yang tidak jauh beda dengan netbook yang, katanya, sudah didesain untuk bisa irit mengkonsumsi baterei. Pada pemakaian standar, baterei si Ayang masih bisa tahan 4 – 4,5 jam. Ini sih udah jauh diatas level aman dari yang diharapkan. Koneksi bluetooth antara laptop dengan hape lancar untuk berbagi foto, seperti juga koneksi wifinya untuk koneksi internet. Dari speknya, koneksi si Ayang lebih wuss dibanding si Cilik, tetapi karena cuma berbagi file foto dengan ukuran yang relatif terbatas, tentu saja, kelebihan si Ayang ini tidak terlalu berasa. Suara yang dikeluarkan si Ayang ternyata sangat merdu, tidak ada cerita suara pecah ketika dicoba full volume (meski pada kenyataannya sih, sering dipakai paling banter 50%). Ah, jangan bandingkan kemerduan si Ayang dengan si Cilik yang memiliki ciri khas suara yang cempreng. Urusan memutar file video, si Ayang juga sudah memberi lebih dari cukup (toh, jarang juga nonton apalagi main game). Dari sisi ukuran display, dengan display VivoBook X202E 11,6 inchi nyaris tidak berasa adanya peralihan dari si Cilik dengan display 10 inchi walaupun, tentu saja, bila melihat penampakannya, melihat layar di Ayang lebih nyaman. Ketika mengetik dan menggunakan mouse sentuh, si Ayang juga memberi kesempatan jari-jari untuk menari dengan lincah tanpa khawatir salah ketik dengan jarak antar tuts yang cukup. Dan ketika iseng-iseng telunjuk menyentuh lembutnya wajah di Ayang, ahaayyyyy, ternyata dia bereaksi dengan gegas.

Keraguan mengenai garansi mulai berkurang ketika serial number si Ayang didaftarkan di id.asus.com. Ternyata identitas si Ayang langsung diterima dan muncul sesuai dengan tipe notebooknya (meskipun juga masih ada keraguan karena hal yang sama pernah bermasalah dengan si Cilik sebelumnya yang ternyata sulit komplain ketika ada masalah, padahal udah datang sendiri ke perwakilannya). Justru masalah sempat muncul ketika adaptor berhenti suplai listrik. Namun hal ini menjadi penambah keyakinan bahwa Asus VivoBook X202E yang tidak ada di beranda id.asus.com ternyata benar tetap dijamin dengan adanya penggantian yang cepat dan tidak njlimet, bahkan cuma lewat telepon dan kemudian untuk penggantian dititip ambil sama teman. Makin tenang deh!

Durian runtuh justru datang ketika iseng memanfaatkan bonus touchscreen dengan modal stylus seharga 20an ribu rupiah. Ini terkait dengan riset yang sedang dikerjakan, yaitu menghitung tingkat penetasan telur ikan. Nampaknya sih sederhana saja, cuma menghitung jumlah telur yang terbuahi dan tidak terbuahi, yang keduanya nampak sebagai sebaran noktah yang memiliki warna yang berbeda. Tapi, tantangannya adalah harus menghitung tingkat penetasan telur pada 100 wadah yang berbeda dari hasil pemijahan 100 pasang ikan dan dalam waktu hanya 2-3 jam, sesuai dengan fase pembelahan sel yang sedang terjadi. Padahal secara normal, perlu waktu 15-20 menit untuk menghitung langsung secara manual jumlah telur-telur tersebut pada setiap satu wadah. Artinya, perlu waktu setidaknya sekitar 20 jam untuk menghitungnya. Itupun dengan resiko perhitungan yang error karena terkait dengan konsentrasi. Sehingga, karena tidak mungkin dilakukan pada waktu yang sesingkat tersebut, setiap wadah diambil fotonya untuk dapat dihitung kemudian dengan bantuan software ImageJ plugin cell counter. Software ini memungkinkan pengguna untuk menghitung jumlah noktah yang ada di gambar. Karena telur yang dibuahi dan tidak terbuahi memiliki perbedaan warna (hijau dan putih), jadi dengan software ini cukup meng-klik setiap warna hijau dan putih pada wadah. Hasil perhitungan akan ditampilkan pada jendela berbeda oleh software. Perhitungan dengan software ini memungkinkan pengguna untuk mengecek ulang noktah bila ada yang belum tertandai. Secara manual, pekerjaan ini bisa dilakukan dengan mencetak foto telur kemudian menghitung dengan cara menandai pakai pulpen.

Dengan menggunakan mouse, pekerjaan perhitungan ini sebenarnya sudah bisa dilakukan. Mouse sentuh di Ayang tentu saja tidak didesain untuk pekerjaan seperti ini. Pekerjaan ini harus menggunaan mouse eksternal untuk memudahkan pergerakan. Tapi, dengan mouse wireless sekalipun, pekerjaan klak-klik ini sering kurang nyaman karena mouse harus terus bergerak, maklum yang dihitung ada sekitar 200 hingga 300 buti telur. Beberapa kali kejadian, gerakan mouse yang kebablasan sehingga justru klik di tempat kosong. Memang, mudah saja melakukan undo. Tapi, keseringan undo akhirnya bikin kesal juga. Belum lagi, perlu space yang cukup di samping laptop untuk mengoperasikannya. Tentu, tidak semua tempat bisa menyediakan space ini karena pekerjaan menghitung juga tidak melulu dikerjakan di meja komputer *bosen. Akhirnya, dicobalah dengan menggunakan stylus.

Menandai telur dengan menggunakan stylus pada layar si Ayang VivoBook X202E yang touchscreen ternyata sangat menyenangkan dan keren banget. Tap… tap…. tap…. Nyaris tidak berhenti stylus bermain di layar. Meski perhitungan bisa dihentikan dan disimpan untuk dilanjutkan kemudian, susah berhenti kalau sudah memulai dengan senang hati. Cuma perlu setengah dari waktu normal untuk mengerjakan perhitungan dalam satu wadah dengan tingkat kesalahan yang jauh lebih sedikit dibandingkan harus pakai mouse. Dan yang bikin keren adalah makin pede mengerjakan perhitungan ini sambil nongkrong di warung kopi untuk cari suasana baru. Orang di warung kopi atau café buka laptop buat maen sosial media, ini justru mengerjakan penelitian *hadeuh. Tentu saja, teman nongkrong penasaran ingin melongok-longok ke layar sambil berkata “eh, emangnya notebook bisa pake layar sentuh ya?” Ya iyalah, emangnya cuma kelas tablet yang bisa seperti itu? Ngiri dong melihatnya.

IMG_2955--

Dengan kesenangan melakukan pekerjaan seperti itu, akhirnya selain menghitung tingkat penetasan telur juga dilakukan perhitungan jumlah sel spermatozoa. Toh, metode pekerjaan relatif sama diantara keduanya namun dengan obyek yang berbeda. Pada faktanya, perhitungan sel spermatozoa ini hanya untuk mengkonfirmasi hasil perhitungan manual yang sudah dilakukan. Habis, terlanjur senang kok! Akhirnya, data hasil perhitungan dengan bantuan stylus ini yang dipakai. Hi… hi… hi.

Durian runtuh selanjutnya datang ketika penasaran mau uji performa si Ayang untuk analisis video. Ini sih penasaran setelah perhitungan penetasan memberi sesuatu yang sebelumnya tidak disangka. Pekerjaan ini biasanya dilakukan di pc dengan spek yang cukup mumpuni. Kalo pakai si Cilik sih dijamin kolaps atau setidaknya terhuyung-huyung hingga sempet minum kopi dulu untuk menunggu selesai proses. Memang, karena keterbatasan alat perekam, kepenasaranan ini baru bisa dicoba pada video dengan fps standar (30 frames per second) dan belum bisa dibuktikan pada fps yang tinggi (100 frames per second). Tapi setidaknya, uji coba performa si Ayang tetap bisa dilakukan.

Analisis video ini masih berkait dengan penelitian yang sedang dilakukan yaitu perhitungan progresifitas sel spermatozoa meskipun data yang dihasilkan belum layak untuk digunakan sebagai hasil riset karena keterbatasan kamera perekam yang belum cukup mewakili. Pengamatan progresifitas sendiri harus dilakukan dibawah mikroskop karena ukuran sel spermatozoa ikan yang sangat kecil, yaitu sekitar 1¬-3 mikron. Untuk mengamati progresifitasnya, sel spermatozoa ikan diaktifasi dengan mencampurkan cairan sperma dengan air pada rasio tertentu. Pergerakan sel spermatozoa biasanya hanya berlangsung sekitar kurang dari satu menit setelah aktifasi. Untuk memudahkan pengamatan, biasanya pergerakan sel spermatozoa direkam dalam bentuk video yang kemudian dianalisis baik dengan cara diputar berulang untuk memperkirakan progresifitasnya atau dengan menggunakan software ImageJ dengan plugin CASA. Sebuah pemisalan mengenai plugin pada software ini adalah seperti menghitung pergerakan seorang Lionel Messi atau Christiano Ronaldo pada sebuah pertandingan sepakbola. Selama permainan, pergerakan kedua pemain bisa dianalisis secara terpisah dan tidak tertukar. Kecepatan rata-rata lari dan pola gerakan Messi atau Ronaldo dapat ditampilkan sebagai sebuah output.

Normalnya, progresifitas sel spermatozoa dihitung per detik, misalnya pada parameter kecepatan gerak. Sehingga, analisis dapat dilakukan pada video selama satu detik saja. Untuk mendapatkan hasil yang baik, pembuat plugin menyarankan untuk menggunakan video hitam putih dengan kecepatan 100 frame per detik. Untuk mengetes kemampuan si Ayang, video pergerakan sel spermatozoa dipersiapkan untuk durasi sekitar 20 detik dengan kecepatan 25 frame per detik sehingga si Ayang harus melakukan analisis secara simultan sekitar pada 600 frame. Pengujian ini dilakukan pada video yang sudah dibuat sequence sehingga tepatnya analisis dilakukan pada 525 image. Semua nilai untuk analisis pergerakan sel spermatozoa pada dialog box pada plugin ini dibiarkan sesuai default kecuali pada tiga parameter terakhir yang terkait dengan output. Tentu saja, akan ada kesalahan perhitungan pada software, misalnya akibat nilai minimum dan maksimum ukuran sel spermatozoa tidak sesuai dengan ukuran sel yang sebenarnya. Kesalahan perhitungan ini diabaikan karena tujuan pengujian hanyalah melihat performa si Ayang. Tiga parameter diubah agar semua hasil analisis dapat dicetak, diantaranya adalah pola gerakan setiap sel spermatozoa. Pola gerakan ini, biasanya adalah output terakhir yang dihasilkan oleh software.

Hasilnya…. Si Ayang bekerja secara lancar. Tidak ada jeda untuk memproses analisis video sampai menghasilkan output pola gerakan sel spermatozoa. Secara total, untuk menganalisis 525 image, si Ayang perlu waktu sekitar 30 detik. Ini sebuah hasil yang diluar dugaan dan sangat fantastis. Bila di kemudian hari memiliki video sel spermatozoa yang representatif (kecepatan 100 frame per detik), analisis dapat dilakukan hanya dalam waktu 5 – 6 detik saja. Pasti, masih akan lebih lama mempersiapkan perekaman video pergerakan sel spermatozoa dibandingkan dengan analisisnya sendiri.

DSCN7162_pola gerakan

Dengan beragam kelebihan diatas, tentunya termasuk dengan mendapatkan durian runtuhnya, sangat wajar bila kemudian Asus VivoBook X202E ini mendapat julukan si Ayang. Sebuah notebook terbaik yang menjadi kesayangan dan favorit. Terbayang, si Ayang akan lebih gemulai bila dapat disandingkan dengan saudaranya, semisal fonepad.

Asus Blog Contest

juragan@X202E

#CultuurSchool1914 #BBPBAT2014 #100th #Sukabumi

#CultuurSchool1914 #BBPBAT2014 #100th #Sukabumi
1. Cultuurschool diresmikan pada 05 Maret 1914. Sekolah budaya pada zaman penjajahan Belanda.
2. Cultuurschool memberikan bekal pada siswanya mengenai pertanian dan perkebunan.
3. Kemungkinan fungsi tersebut masih dipertahankan ketika Jepang menjajah negeri ini
4. Pasca kemerdekaan, fungsi sekolah masih berjalan sebagai Sekolah Pertanian Menengah
5. Sekitar tahun 1954an berubah fungsi menjadi pusat latihan perikanan
6. Setelah itu, beberapa kali ganti nama dan ganti fungsi sejalan dg perubahan politik negeri ini, terakhir tahun 2014
7. Saat ini, gedung sekolah tsb berganti menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), dibawah Kemen. Kelautan dan Perikanan
8. Nyaris tidak ditemukan dokumentasi yg menyebut peran sekolah budaya hingga beralih fungsi pusat latihan perikanan.
9. Laporan Belanda menyebut peran alumni cultuurschool di perkebunan2 pada saat itu.
10. Cerita orang tua menyebut, pada zaman Jepang, gedung ini juga digunakan utk tawanan
11. Pada zaman perang kemerdekaan dan ketika menjadi sekolah pertanian, tidak ada cerita lagi seputar gedung dan siswanya
12. Cerita ketika berfungsi sebagai pusat latihan perikanan masih bisa ditanya pd saksi hidup yg masih ada.
13. Pusat latihan perikanan tsb nampaknya berperan pd peningk. budidaya ikan di masy, setidaknya Pulau Jawa, meskipun tdk ada dokumentasinya
14. Pada Tahun 1978, gedung ini dijadikan Balai Budidaya Air Tawar (BBAT)
15. Pada Tahun 2007, kemudian berganti nama menjadi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar
16. Dan pada Tahun 2014, berganti menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
17. Dengan area kerja di seluruh negeri, BBAT-BBPBAT telah mewarnai kemajuan perikanan budidaya di Indonesia
18. Secara konsep, Balai ini menjembatani antara hasil riset dengan penerapan di masyarakat
19. Secara konsisten, Balai ini juga mensuplai benih dan induk utk kebutuhan masy pembudidaya
20. Ikan mas dan nila mungkin sejak sebelum ’80an, lele dumbo mulai ’86an, patin ’90an hingga udang galah dan ikan2 Chinnese carp.
21. Pun, Balai ini menghasilkan teknik budidaya utk ikan2 tersebut hingga menjadi standar nasional Indonesia.
22. Sudah empat varietas ikan unggul yg dihasilkan oleh Balai ini yg dilepas oleh Menteri dan telah diedarkan ke seluruh penjuru tanah air
23. Ikan lele Sangkuriang tahun 2004, ikan nila Gesit tahun 2007, ikan nila Sultana tahun 2011 dan ikan lele Sangkuriang2 tahun 2013
24. Secara nasional, hanya BBAT-BBPBAT Sukabumi yg mampu melepas ikan unggul hingga 4 varietas
25. Balai ini juga terlibat dlm produksi vaksin utk ketahanan thd penyakit ikan dan produksi bahan pemacu pertumbuhan ikan
26. Balai ini telah menjadi laboratorium rujukan secara nasional utk pengujian produk perikanan
27. Balai ini menjadi pusat/koordinator secara nasional utk pemuliaan induk ikan lele, mas dan nila
28. Di tingkat internasional, Balai ini sdh kirim tenaga ahli utk pengemb. perikanan budidaya di Kamboja & Kenya
29. Kerjasama teknis juga terjalin dg beberapa negara di Asia dan Eropa
30. Wajarlah, bila beberapa penghargaan nasional telah diraih baik oleh Balai ataupun personalnya
31. Wajarlah, bila dari Sabang hingga Merauke bahkan luar negeri, orang datang utk belajar ke sini
32. Sangat wajar dan sudah seharusnya, bila kami terus berinovasi utk bakti terhadap negeri
33. Selamat ulang tahun gedung #cultuurschool #BBPBAT

Bioflok untuk Budidaya Lele?

Bioflok untuk Budidaya Lele? #Bioflok4Lele
1 Pemanfaatan teknik bioflok pada budidaya ikan lele, nampaknya, seperti buah dipetik sebelum tua. #Bioflok
2 Ironisnya, buah tersebut sudah dipromosikan untuk langsung dinikmati secara segar. #Bioflok
3 Lebih ironis lagi, yang tergiur kebanyakan orang-orang yang belum paham buah. #Bioflok
4 Baiknya, pahami dulu konsepnya, mulai dari yg lebih sederhana dan skala kecil. #Bioflok
5 Kalo sudah paham dan berhasil, silahkan perluas. #Bioflok
6 Kalo belum terbukti, janganlah dulu berteriak promosi! Kasihan para pembudidaya lele. #Bioflok
7 Kok gitu? Karena saya belum dapat testimoni (apalagi fakta) keberhasilan bioflok pd budidaya lele. #Bioflok
8 Sejauh hanya curhat, bolehlah saya masih dengarkan. #Bioflok
9 Beberapa kawan masih berlanjut inbox utk diskusi pemanfaatan bioflok pada budidaya lele. #Bioflok
10 Ah, saya tidak mendalami teknik tersebut, meskipun beberapa kali terlibat diskusi. #Kompor #Bioflok
11 Saya cuma berusaha “bertanya” karena ada deduksi yg tdk bersambung. #Bioflok
12 Setiap penerapan teknik tertentu pada budidaya ikan harus memberikan added value dibanding sebelumnya. #Bioflok
13 Added value bisa semua atau salah satu dari peningkatan produktifitas lahan, usaha, sosial atau lingkungan. #Bioflok
14 Tentu, bioflok pada budidaya lele juga harus dpt memastikan produktifitas mana yg akan dicapai. #Bioflok
15 Seorang Yoram Avnimelech, salah satu bapak bioflok di akuakultur masih mengatakan http://ow.ly/tR0mj #Bioflok
16 Perlu banyak lagi penelitian dan pengembangan penerapan bioflok. #Bioflok
17 Mungkin bahasa sains yang tidak ada batasnya , selalu ada tanya yg harus dijawab. #Bioflok
18 Atau mungkin karena perlu riset lanjutan sebelum dapat diterapkan secara stabil. #Bioflok
19 Sejauh ini, penerapan bioflok sudah ada yg berhasil tapi juga ada yg gagal. #Bioflok
20 Sehingga, pernyataan diatas kemungkinan lebih terkait dengan alternatif kedua. #Bioflok
21 Bila bapaknya saja masih mengatakan seperti itu, jadi wajarlah perlu pemahaman yg tinggi bila ingin menerapkan bioflok. #Bioflok
22 Yg utama, pastilah harus memahami konsep bioflok dan fenomena yg akan terkait dengan konsep tsb. #Bioflok
23 Ah yg kedua, karena tdk mendalami secara khusus, saya cuma mau “bertanya” lagi. Ini lebih terkait dg lele #Kompor #Bioflok
24 Konsep awalnya relatif sederhana: akumulasi nitrogen pd media budidaya yg berasal dari buangan ikan atau sisa pakan. #cmiiw #Bioflok
25 Dimanfaatkan oleh bakteri dengan memanipulasi ketersediaan nitrogen dan karbon. #cmiiw #Bioflok
26 Limbah bisa dieliminir dan ganti air tidak ada atau sedikit, plus hasil konversi tsb dpt dimanfaatkan untuk pakan ikan. #cmiiw #Bioflok
27 Berapa banyak porsi nitrogen yg berasal dari buangan ikan lele vs sisa pakan. Apakah keduanya diperlakukan sama? #Bioflok
28 Apakah nitrogen dari buangan ikan lele sama dengan buangan dari ikan lain? Perilaku makan dan tipe kotoran sih berbeda #cmiiw #Bioflok
29 Perilaku makan ikan lele cenderung karnivor shg penyerapan nutrisi akan berbeda dg ikan yg herbi atau omnivor. #Bioflok
30 Kotoran ikan lele cenderung tersuspensi dlm air sedangkan beberapa ikan lain cenderung mengendap di dasar. #Bioflok
31 Apakah juga nitrogen pd kotoran ikan akan tetap sama pd beragam stadia umur dan ukuran ikan lele? #Bioflok
32 Bila ada perbedaan2 tsb, cukup alasan manipulasi rasio karbon:nitrogen juga akan berbeda. #Bioflok
33 Dari hal tsb jadi wajar bila ada dugaan manipulasi bioflok akan bergantung pada spesies yg dibudidayakan. #Bioflok
34 Apa sumber karbon yg dapat dimanfaatkan? Karena sumber nitrogen bisa berbeda, maka mungkin sumber karbon juga berbeda #Bioflok
35 Pemanfaatan karbon:nitrogen berkait dengan unsur lain: oksigen, pH, alkalinitas ….. (katanya, harus juga ada inti flok) #Bioflok
36 Oksigen “disuntik” dengan aerasi, sebesar apa? Apa cuma menyuntik atau juga harus mengaduk? ‘Kan kotoran lele sdh teraduk #Bioflok
37 Bagaimana mempertahankan pH dan alkalinitas? Kapur? CaO, CaCO3 atau CaMgCO3? Garam? Bahan lain? #Bioflok
38 Apakah dengan ketersediaan rasio karbon:nitrogen dan bahan lain yg tepat bakteri akan efektif memanfaatkannya? #Bioflok
39 Apa perlu jenis bakteri yg spesifik? Atau justru lebih perlu kestabilan suatu komunitas bakteri? #Bioflok
40 Karena membentuk flok, publikasi menyebut sebagai “microbial flocs”, tdpt banyak bakteri dan organisme lain #Bioflok
41 Sehingga nampaknya, kestabilan komunitas bakteri lebih penting daripada dominansi suatu jenis spesifik. #Bioflok
42 Bagaimana menumbuhkan dan menjaga kestabilan komunitas yg bermanfaat? #Bioflok
43 Kalo kontrol kestabilan bakterinya sulit dilakukan, bagaimana mempertahankan kualitas air tetap optimum utk ikan? #Bioflok
44 Apa perlu “disuntik” dengan komunitas bakteri tertentu yg bermanfaat? #Bioflok
45 Cukupkah bakteri yg dpt memanfaatkan karbon atau nitrogen secara terpisah? Atau justru simultan memanfaatkan keduanya? #Bioflok
46 Publikasi menyebut amonia dpt langsung dikonversi jadi protein. Kalo bakterinya scr spesifik diketahui, mungkin lebih tepat dipakai. #Bioflok
47 Dengan bakteri yg spesifik, stabilitas harusnya lebih mudah dikontrol dan manfaat yg diharap lebih yakin diperoleh #Bioflok
48 Ah yg ketiga, atau lupakan semua itu…. #Bioflok
49 Cukup saja, sediakan bahan yg mungkin diperlukan dan serahkan pada alam untuk menumbuhkan bakteri. #Bioflok
50 Yang penting adalah memahami perilaku ikan lele yg dipelihara. #Bioflok
51 Dinamika yg terjadi pd komunitas bakteri harusnya berdampak pada perubahan air budidaya. #Bioflok
52 Sejauh ikan masih “nyaman dan tumbuh”, perubahan tsb bisa dikesampingkan. #Bioflok
53 Namun, bila perubahan tsb menyebabkan perubahan perilaku ikan, manipulasi media baru dilakukan. #Bioflok
54 Praktisnya, masukkan air gula tambah kapur mill (dolomit) dan garam krosok ke dalam wadah, aerasi beberapa hari. #Bioflok
55 Masukkan ikan mulai dengan kepadatan normal, beri makan, aerasi tetap dan amati perubahan perilakunya. #Bioflok
56 Bila ada indikasi ikan menggantung, beri kapur dan garam. #Bioflok
57 Bila napsu makan berkurang, beri air gula plus kapur dan garam. #Bioflok
58 Ah yg keempat, dijamin berhasil……? Tidak. Mungkin beberapa hari kemudian ikannya mati. #Bioflok
59 Ini hanya awal belajar memahami perubahan perilaku ikan. #Bioflok
60 Yg setuju, yg nggak setuju, yg mau ngedebat, yg mau ngutip, yg mau share, yg mau nambahin, silahkaannnn #Bioflok

add. Diskusi di facebook dapat dilihat disini

juragan@GN8