Kalibunder: Sejarah

Ketika sekolah di SMA, saya lebih senang mnuliskannya “XO” untuk kampung asal “Kalibunder”. Wajar, bila kemudian, saya cukup dikenal dengan nama “si XO” (eks o), alih-alih dikenal sebagai orang kalibunder.

Kalibunder merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Sukabumi. Selain sebagai nama kecamatan, nama kalibunder juga merupakan nama tempat yang dulunya perkampungan (tarikolot). Ini cukup berbeda dengan nama daerah lain yang biasanya hanya penamaan pada kecamatan/kabupaten, misalnya Sukabumi, karena tidak ada nama kampung Sukabumi.

Nama “kalibunder” cukup khas untuk daerah Jawa Barat (Sunda), karena diluar pakem penamaan daerah dan lebih bernuansa bahasa Jawa. “Kali” (Jawa) adalah sungai atau wahangan (Sunda); biasanya tempat di tatar sunda menggunakan istilah “Ci” dari kata “cai”. “Bunder” (Jawa) adalah bulat atau buleud (Sunda); beberapa tempat menggunakan kata “buleud”, misalnya Tegalbuleud atau Gunungbuleud. Tentu jadi pertanyaan, kenapa ada nama Jawa di tatar Sunda.

Tahun 95′an, saya sempat menelusuri tempat kalibunder. Sebuah bukit yang dikelilingi parit/selokan/sungai. Kata cerita, di bukit itu ada makam/pajaratan sesepuh pendiri kalibunder. Sayangnya, yang katanya parit hanya ditemukan sawah dan bukit hanya tersisa saung/dangau. Entahlah, mungkin saya salah tujuan.

Akhirnya, saya dapat cerita kalibunder dari seorang sesepuh, Bapak Risman Sumantri

Di Pajaratan Kalibunder aya Makom leluhur urang Kalibunder nu namina Raden Jaya Raksa, Raden Nayasentana, Mbah Kondang Hapa. Eta duanana teh Gegeden Pentolan Kerajaan Mataram (Jogjakarta) ari Mbah Kondang Hapa mah ti Sumedang,

Mangsa rengsena ngajorag VOC di Batavia eta dua gegeden teh teu mulih deui ka Kerajaan Mataram tapi milari hiji tempat anu astri kanggo niis sareng nyebarkeun ajaran Islam, dugi ka mantenna menak hiji bukit atawa pasir anu dikurilingan ku susukan, nya ti harita eta patempatan teh disebut Kalibunder.

Sareng kapungkur mah puseur dayaeuh teh tempatna di Kalibunder atanapi sekitar Makom tea, Kadieunakeun nya direlokasi ku Walanda ka daerah Sukasari ayeuna dugi ka nami desana oge tetep nganggo nami lama nyaeta Kalibunder. Walanda gaduh visi srg misi ka payuna daerah Kalibunder lama perlu dijadikan hutan sebagai resapan air. Tah ari Makomna nu di Parigi Gunung Patat mah namina Mbah Rangga Sena eta teh Panglima Perangna Karajaan Pajajaran anu agamana masih Hindu keneh. Mantenna kawilang hiji jalmi anu sakti mandraguna.

Carios anu ku pribados disebatkeun teh kapungkur mah aya diserat dina daun lontar anu dicepengna ku Kuncen Kalibunder sareng Tanjung nyaeta namina Mandor Emuh namung ku salah sawios tokoh Kalibunder (moal disebatkeun namina) daun lontar eta teh diduruk pajarkeun teh cenah sok bisi kahareupna anak-incu nu ngaku urang Kalibunder bisi sararombong lamun nyahoeun yen karuhuna lain jalema samanea.

#InovasiLele #LelePakujajar

#InovasiLele #LelePakujajar

Dalam budidaya lele, ada saja yang bilang, untuk apa teori….. yang penting itu praktek…..
Tidak salah sih, tapi mungkin hanya “sedikit” khilap bahwa teori dikembangkan dari praktek.
Pengalaman dari prakteklah yang kemudian menjadi teori. Pengalaman sendiri dan orang lain.
Termasuk yang penting adalah pengalaman orang lain yang sudah dipublikasikan secara ilmiah.
Menjadi sangat penting adalah adopsi publikasi ilmiah tersebut ke dalam praktek kita.
Adopsi berbeda dengan copy-paste. Adopsi disesuaikan dengan kondisi setempat.
Memahami teori ilmiah adalah seni tersendiri apalagi ketika diterapkan.
Kegagalan memahami teori bisa jadi awal jalan ke arah kerugian.
Tidak mengetahui teorinya bisa berarti sudah menentukan jalan untuk kegagalan.
Memang, dari (pengalaman) kegagalan itu kita bisa belajar (kemudian menjadi teori) untuk mencapai keberhasilan.
Tapi, tentu ada plihan: perbanyak pengalaman gagal sampai bisa berhasil atau perbanyak teori untuk mengecilkan peluang kegagalan dalam penerapan.
Saya memilih yang kedua, meskipun kemudian dikatakan seperti yg diawal saya tulis.
Karena saya memilih yang kedua, makanya saya menulis di blog ini. Sesingkat apapun.

#SatuDaerahSatuIkanLokal #TebarIkanLokal

- Belum banyak ikan lokal/native yg kita kembangkan secara komersial apalagi pada skala kecil.
- Hanya gurame, nilem, baung, patin jambal, gabus, udang galah dan bbrp yg masih skala riset spt soro. Ditambah bbrp ikan hias.
- #usul ada gerakan utk memasyarakatkan ikan lokal, dari budidaya kemudian kampanye konsumsi ikan lokal.
- Berkaca ke Tiongkok, berhasil dg ikan lokal (Chinese carp) karena konsumsi dalam negeri sangat tinggi bukan utk ekspor.
- Selain gurame, belum ada ikan native yg bisa meng-Indonesia. Bandingkan dg nila dan lele yg keduanya introduksi
- #usul anggaran sebaikny lebih diarahkan pd penyediaan benih ikan lokal drpd ke kegiatan restockingnya
- jangan sampai, karena benih ikan lokal tdk tersedia, akhirnya penebaran ikan2 introduksi, seperti ikan nila atau patin hypop
- #usul dg dukungan anggaran, ada gerakan “satu daerah satu ikan lokal”.
- “satu daerah satu ikan lokal”, fasilitas ada, ikan ada (kl perlu domestikasi dulu). tinggal orangnya dan policynya.
- #usul #OneVillageOneNativeFish #TebarIkanLokal #StopTebarIkanIntroduksi

Saya reply twitnya Dirjen PB, Bapak Slamet Soebjakto @s_soebjakto
- Semalam dlm pmbukaan acara Forum Perbenihan Skala Kecil di Bdg, sy menyampaikan u/ trus mendorong prod benih ikan lokal.
- Sy juga mnyampaikan 10% prod benih u/ restocking dan didukung anggaran yg memadai.

Semoga dibaca beliau.

update:
Dirjen PB, Bapak Slamet Soebjakto @s_soebjakto berkenan twit-reply:
Twit-reply Dirjen Perikanan PB Bapak Slamet Soebjakto @s_soebjakto terkait pengembangan ikan-ikan lokal

1. Alhamdulillah balai2 ikan air tawar kita sdh berhasil memasalkan benih ikan2 Lokal..
2. ..spt nilem, baung, patin jambal, gabus, udang galah, belida, papuyu, tawes dll.
3. khususnya balai perikanan budidaya di mandiangin kalsel @E_Mudjiutami
4. ..kita punyaa program u/ mengembalikan stok2 ikan lokal yg dulu banyak di perairan umum.
5. Idea usulan satu daerah satu ikan lokal sangat bagus dan bisa kita pertimbangkan.